Jumat, 04 Juni 2010

Jantanisasi Ikan Lele dengan Teknologi Nuklir

Jepara (17/03/2010): Budidaya ikan lele merupakan salah satu peluang usaha yang cukup diperhitungkan untuk saat ini. Pemeliharaan ikan meliputi pembenihan dan pembesaran, dimana untuk beberapa jenis ikan diperlukan benih ikan jantan yang unggul dengan sistem pemeliharaan monosex kultur. Pemeliharaan ikan secara tunggal kelamin jantan cenderung meningkatkan produksi ikan karena proses perkawinan tidak akan terjadi, dan ikan jantan memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan ikan betina.

Hal ini disampaikan oleh Dra. Adria PM, salah seorang peneliti BATAN, pada kegiatan Pelatihan Bidang Pertanian, Peternakan, dan Perikanan, serta Pengenalan Iptek Nuklir bagi para petani dan peternak di Desa Pendem, Kec. Kembang, Kab. Jepara. Pelatihan yang diikuti oleh + 30 orang petani dan peternak, serta dihadiri oleh PPL Pertanian dan Perikanan Kab. Jepara ini, dibuka secara resmi oleh Camat Kembang, Drs. Sularjo, MH, Rabu (17/03/2010).

Dalam sambutan pembukaannya, Sularjo menyampaikan bahwa sebagaian besar masyarakat di Kecamatan Kembang merupakan petani dan peternak. Khususnya di Desa Pendem, selain sebagai petani dan peternak, masyarakatnya juga memanfaatkan lahan disekitar rumahnya untuk mengembangkan ikan lele. Untuk itu, Sularjo berharap agar para peserta pelatihan dapat menyerapkan informasi yang disampaikan oleh para pembicara, dan dapat langsung diterapkan, agar dapat menambah income perkapitanya. Usaha terbaik dan mudah untuk mendapatkan benih ikan jantan dengan metode pengalihan jenis kelamin (jantanisasi ikan/sex-reversal) dengan perlakuan hormon. Salah satu caranya dengan merendam larva/burayak ikan dalam larutan hormon testosteron (methyl testosteron).

Menurut Adria, persentase alih kelamin jantan sekitar 91% apabila diberi pakan mengandung hormon testosteron. Namun, menurutnya lagi, maskulinisasi dengan rangsangan hormon perlu memperhatian umur ikan, semakin muda umur ikan, peluang terbentuknya kelamin jantan semakin besar. “Maskulinisasi sebaiknya dilakukan pada umur 7-10 hari setelah telur menetas karena masih dalam bentuk larva”, kata Adria. Permasalahan yang dihadapi oleh peternak ikan adalah kesulitan untuk mendapatkan hormon testosteron. Kalaupun ada, harganya cukup mahal karena yang beredar di pasaran merupakan impor dari China, Thailand, dan Jepang. Dengan memanfaatkan teknik nuklir, BATAN dapat menghasilkan hormon methyl testosteron. Penentuan konsentrasi dan persentase ikan jantan dilakukan menggunakan tracer yodium-125 dengan metode radioimmunoassay (RIA).

Disamping itu, BATAN juga telah menghasilkan Pelet Stimulan Pakan Ikan (SPI) untuk pakan tambahan sehingga benih ikan jantan menjadi unggul dan waktu panen ikan lebih cepat.

Diharapkan dengan menggunakan produk hasil itbang BATAN ini, peternak ikan dapat menghemat biaya produksi ikan yang akhirnya akan sangat berguna bagi para peternak ikan, serta dapat meningkatkan pendapat mereka.
Selain mengenalkan teknologi nuklir di bidang peternakan, dalam hal ini pengembangan ikan lele, diperkenalkan hasil litbang BATAN di bidang pertanian, khusus varietas padi unggul Mira-1 oleh Prof. Dr. Mugiono. Dalam kesempatan itu pula Kepala Bidang Diseminasi Pusat Diseminasi Iptek Nuklir (PDIN) – BATAN, Ir. Ruslan, menyerahkan secara simbolis benih padi Mira-1 sebanyak 15 kg dan 10.000 ekor benih ikan lele, kepada Camat Kembang, dan langsung diserahkan kepada para petani dan peternak Desa Pendem. (arial)